Not Just Traveling

A Story From “Solo International Performing Arts (SIPA) 2011”


Last week Solo (Surakarta) held another international event, Solo International Performing Arts (SIPA) 2011. It’s being held in 3 days from 1 July to 3 July 2011 at Pamedan Mangkunegaran Solo, Central Java.

I miss the first day. And in the second day I was late. But I never think it will be that full. Maybe almost ten thousands of people attend this event, it’s leaving only little space on behind to walk. Because the seat has been fully charged so many people must watch the show while standing including me. It’s hard to watch the show from behind the row because its to far and standing made ​​me tired.

The worse things happens when I meet some friends who also came late. The worse combination of “Friends + No Seat + Hungry” are “Chit Chat + Taking Photos Together + Eating.” Yes we more enjoy it than the show. 😀

Finally on the last day I can enjoy the show. I came early and I just get a seat in the middle.

The first show performed by Universiti Malaysia Sabah – Malaysia. They perform traditional dance by wearing costumes that glow in the dark.

The second show performed by Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon (Department of culture and Tourism of Cirebon Regency) is  bit boring, nothing special with them.

Leine Roebana, Netherlands

The third show are from Leine Roebana, Netherlands. It’s a little boring at first (maybe it’s just me) but there are a unexpected moment in the middle of the show.

A mysterious (people in the middle of the picture above) up onto the stage from the front stage. For me, he looked more like an artist than a dancer. I thought he is their friend. But, wait. Why the other dancers away from him. He use different clothes from other and he bring a bag.

He even offers a bottle of water to one of the dancers. The dancers look confused. We the audiences even more confused. Why no one stop him?

The answer came when the music played again (I don’t know when the music stoped) simultaneously with the dance movements performed by the mysterious person. And other dancers also returned to dance. But when the show end he pick his bag and go down from the front stage while the other dancer go down from the side stage. I forgot to ask the organizer about him when the event end and who the mysterious person is still a mystery to me even until now.

Los Peyoteros, Mexico

After Netherlands, the time for Los Peyoteros came. They perform lovelly traditional music from Mexico. Yes, I love the music. It’s make me want to dance.

The singer sometimes use bahasa Indonesia to comunicate with the audience. They also bring a translator to translate what she say.

Not only that, in one of the song, they even invite the audiences to dance together on the stage and sing using bahasa Indonesia in some part of the song. Maybe not so many people notice it (or maybe it’s just me who notice it) because it’s not to clear except the word “Indonesia” that’s the singer says.

Sruti Respati from Solo - Indonesia

Last performer is Sruti Respati from Solo – Indonesia. She combines traditional java music with jazz. She also brings a little girl puppeteer and some children to play some traditional games.  This is my first time see a girl become “Dalang” (puppeteer) and play “Wayang Kulit” (Shadow Puppet).

Since she already bring so many children to play some traditional games, I hope she will joint them to play one or two games but unfortunately it’s not happen.

SIPA 2011 closing ceremony

Hari-hari Terus Berlalu
Tiada pernah berhenti
Seribu rintang jalan berliku
Bukanlah suatu penghalang

Hadapilah segala tantangan
Mohon Petunjuk yang kuasa
Ciptakanlah Kerukunan Bangsa
Kobarkanlah dalam dada
Semangat jiwa Pancasila

Hidup tiada mungkin
Tanpa perjuangan
Tanpa pengorbanan
Mulia adanya
Berpegangan tangan
Satu dalam cita
Demi masa depan
Indonesia Jaya

The event closed lovelly with firework song Indonesia Jaya (Glory Indonesia) and fireworks attraction.

Love Indonesia

Iklan
Categories: Not Just Traveling | Tag: , , , , , , | 1 Komentar

Spending Saturday Night Seeing “Solo Batik Carnival (SBC) 2011”


I spend my last saturday night (June 25, 2011) seeing Solo Batik Carnival (SBC) 2011. SBC is an annual carnival held in Solo City (Surakarta City), Indonesia.

The unique about SBC is all of the participants are using “batik” as the main materials on their costumes.

Different from previous years which is always held at afternoon, this year SBC was held at night.

The participants look cool wearing traditional and unique costumes. Some of the even add glittering ornaments or tiny lights to their cotumes.

Presenting “Legend” as its main theme, the carnival highlighted four of the most renowned Javanese folk-legends: the  Ande-ande Lumut, Ratu Kencana Wungu, Ratu Laut Selatan (The tale of the Queen of the South Seas), and the tale of Roro Jongrang.

Four winners of the Miss Indonesia also participated in this event: Nadine Alexandra Dewi (Miss Indonesia), Inda Adeliani (Miss Intelligence), Alessandra K Usman (Miss Tourism), and Reisa Kartikasari (Miss Environment).

The event was also attended by the Mayor of Solo, Joko Widodo, and vice Mayor Hadi Rudyatmo, who both followed the parade on foot from the start to the finish-line at the Solo City Hall.

That night was an exhausting night. I had to wait more than 2 hours until the convoy arrived. But that night was an interesting night. A lot of interesting things happens and many lessons that can be obtained.

See you again next year.

Categories: Not Just Traveling | Tag: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Menghabiskan Malam Minggu dengan Melihat “Solo Batik Carnival (SBC) 2011”


Malam minggu kemarin (sabtu, 25 Juni 2011) adalah hari yang spesial buat kota Solo. Yak, di hari itu untuk keempat kalinya kota Solo menyelenggarakan Solo Batik Carnival (SBC).

Beda dengan SBC tahun-tahun sebelumnya yang selalu diselenggarakan pada waktu siang menjelang sore. SBC tahun ini diselenggarakan pada waktu malam hari.

Para peserta tampil keren dengan menggunakan kostum-kostum unik yang mengangkat tema Legenda dengan empat legenda terkenal di Jawa sebagai  sub temanya (Ratu Pantai Selatan, Roro Jonggrang, Ratu Kencana Wungu dan Ande-ande Lumut).

Diadakan dimalam hari ternyata membuat para peserta lebih kreatif. beberapa peserta menambahkan beberapa ornamen yang dapat berkilauan terkena cahaya lampu bahkan beberapa sinar lampu dan bahkan ada beberapa peserta yang menambahkan lampu-lampu kecil di kostum mereka.

Tak ketinggalan 4 Puteri Indonesia pun ikut berpartisipasi sebagai peserta khusus, yaitu Nadine Alexandra Dewi (Puteri Indonesia), Inda Adeliani (Puteri Intelegensia), Alessandra K Usman (Puteri Pariwisata), dan Reisa Kartikasari (Puteri Lingkungan) dengan menggunakan kereta kuda.

Bahkan Walikota dan wakil Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) dan FX Hadi Rudyatmo ikut berpartisipasi dengan berjalan kaki di karnaval yang menempuh jarak sekitar 4 km ini (mulai dari Solo Centre Point sampai Balaikota Solo).

*

*

Sayang ketertiban dan kebersihan terus menjadi masalah tiap kali event seperti ini diadakan.

Jika kalian juga melihat event ini secara langsung kalian pasti juga merasakannya. banyak masyarakat yang tidak sabar untuk melihat iring-iringan sehingga sering kali mereka sampai merengsek ke tengah jalan yang bukan hanya mengganggu peserta karnaval tapi juga penonton lainnya. Apalagi ditambah ulah orang-orang yang merasa sebagai fotografer tapi tidak tahu aturan.

Parahnya lagi bahkan ada warga yang mencegat peserta untuk foto bersama. Ckckckckc….terlalu.

Masalah lain yang mengganggu terutama bagiku adalah “Sampah”. Banyak sekali sampah yang berceceran bahkan sampai di tengah jalan.

Ya, kesadaran masyarakat Solo akan masalah sampah masihlah sangat rendah. Memang tak ada salahnya makan dan minum sambil menunggu karnaval lewat tapi tolong jaga kebersihan jangan buang sampah sembarangan.

Bawa pulang sampah atau buang di tempat yang seharusnya. Di sepanjang jl. Slamet Riyadi banyak sekali terdapat tempat sampah. Seandainya saja kita mau sedikit mengeluarkan tenaga untuk mencari dan membuang sampah di tempat sampah insya Allah masalah sampah ini tidak akan terjadi.

Malam yang melelahkan tetapi sangat menarik. Banyak pelajaran yang bisa diambil.

Yeah, because I’m not just traveling.

See you again next year.

Masukan yang insya Allah akan berguna bagi panitia/penyelenggara dan juga masyarakat:

  • Perlu adanya kesadaran setiap orang akan ketertiban dan kebersihan. Mari kita mulai dari diri kita sendiri mulai sekarang juga.
  • Panitia juga dapat memperingatkan masyarakat mengenai hal ini lewat mobil patroli yang dikerahkan dalam acara ini.
  • Memberi batas penonton insya Allah akan sangat membantu. Tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membuat pembatas dari logam sepanjang ± 8 km. Pembatas-pembatas yang biasanya dipakai ketika Solo Car Free Day bisa digunakan dengan cara menghubungkannya dengan tali rafia atau tali lainnya.
  • Menyediakan tempat khusus untuk fotografer insya Allah juga dapat menjadi solusi untuk mengatur para fotografer. (Untuk hal ini mungkin panitia dapat belajar dari Jember Fashion Carnival yang akan diadakan bulan Juli ini).
  • Karena sudah berkomitmen untuk menyelenggarakan SBC tiap tahun, alangkah baiknya kalau bisa dibuat situs resmi SBC untuk sarana informasi dan promosi tentang acara ini.
  • Terakhir, diusahakan menyelenggarakan 2/lebih event yang berbeda pada waktu yang sama karena dapat membunuh event yang lebih kecil (dalam hal ini Karaton Art Festival).
Categories: Not Just Traveling | Tag: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: